PUJIAN
Apakah arti kata ini?
Menurutku (bukan menurut kamus besar bahasa indonesia), pujian adalah pernyataan yang disampaikan kepada yang bersangkutan sehubungan dengan perbuatan atau prestasi yang telah dicapainya dan layak untuk mendapatkan penghargaan.
Singkat kata, pujian adalah pernyataan yang disampaikan untuk menghargai seseorang.
Bentuk2 pernyataan itu ada berbagai macam.
Lazim disampaikan dalam wujud kata-kata.
Bisa lewat ucapan terima kasih.
Mungkin pula lewat jabatan tangan.
Tepukan di bahu.
Pelukan.
Ciuman.
Bahkan, bisa pula lewat tatapan mata.
Mungkin kita tidak ingat kapan terakhir kali kita menerima pujian.
Atau mungkin malahan baru saja kita memperolehnya?
Mungkin kita saat ini merasa menjadi seorang yang gagal.
Seorang yang tidak layak dipuji.
Berulang kali melakukan kesalahan.
Bahkan, hal yang sepele pun tidak dapat kita kerjakan dengan benar.
Semua pekerjaan yang kita lakukan salah.
Gagal di hal yang sama.
Menjalani ujian yang sama dengan hasil yang sama buruknya dengan sebelumnya.
Atau… sebaliknya?
Kita sedang menerima banyak penghargaan.
Segala sesuatu yang kita lakukan dijadikan panutan.
Semua yang kita kerjakan berhasil.
Karya-karya yang kita tekuni semuanya gemilang.
Bahkan, semua orang terkagum-kagum kepada kita.
Berbondong-bondong mereka meminta petunjuk dari kita.
Kemarin malam saat aku memandangi sederetan bentol2 yang tak kunjung hilang dari permukaan kulit kakiku, membuatku menjadi berpikir tentang hal ini. Tentang pujian. Hmmm… benernya apa hubungannya bentol2 dengan pujian? Yah… jujur aku juga ngga tau apa ada hubungannya. Hahahahahaha.
Bentuk lain sebuah pujian pun muncul.
Bukan berupa kata-kata.
Bukan pula berupa tindakan.
Namun berupa sebuah penghargaan yang lebih dari sebuah piagam.
Penghargaan yang tidak hanya sebatas materi atau fisik.
Kepercayaan.
Adakah hal lain yang bisa membuat orang merasa lebih dipuji bilamana dia diberi kepercayaan yang lebih besar?
Memang, bilamana sebuah kepercayaan diberikan, itu berarti kita dituntut untuk tidak mengecewakan kepercayaan itu. Sebuah tanggung jawab -yang tidak enteng, tentunya!
Saat kita kembali gagal dalam hal yang sama…
Pernahkah berpikir, kenapa hal ini berulang kali terjadi padaku?
Di bagian yang mana (lagi) aku melakukan kesalahan?
Mungkinkah, sebuah ujian yang sama diberikan kepada kita?
Mungkin kita tidak menyadari adanya perbedaan ‘kecil’ yang sudah kita alami pada saat kita ‘mengerjakan’ ujian yang sama. Apa bedanya?
Kita sudah pernah melaluinya.
Kita sudah memiliki pengalaman ‘mengerjakan’ soal2 ujian itu.
Tapi… berulang kali pula kita sudah gagal.
Bukankah itu suatu pretasi yang buruk?
Keledai pun tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama kan?
Lantas, di bagian mana kita bisa merasa bangga dengan kegagalan yang kita alami (lagi) ini?
Masih sadarkah kita terhadap kasih Tuhan?
Masih pekakah kita terhadap keberadaanNya?
Sedemikian Tuhan mengasihi kita sehingga Dia tidak pernah bosan untuk mengajar kita hal yang sama. Dia tak pernah lelah untuk terus mengingatkan kita terhadap hal yang sama. Dia tak pernah berhenti menyertai kita di dalam semua kegagalan kita.
Apa jadinya bila kita ini adalah Tuhan?
Mungkin kita akan mengatai-ngatai manusia itu sebagai makhluk yang bebal.
Mungkin kita akan menyerah. Duh, keledai saja tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama… tapi kenapa makhluk yang satu ini malah jatuh ke dalam lubang yang sama berulang kali…?? Bahkan, semakin lama semakin dalam pula…!!!
Mungkin kita akan menggali lubang tempat manusia itu semakin dalam dan semakin dalam kemudian menutupnya!!! Habis perkara! Selamat tinggal, makhluk bodoh! Aku sudah muak melihat semua kelakuanmu!
Namun, syukurlah kita bukan Tuhan.
Di balik kegagalan, masih ada kesabaran Tuhan.
Penyertaan Tuhan.
Kasih Tuhan.
Kesetiaan Tuhan.
Di dalam kegagalan, masih ada kesempatan.
Pujian yang Tuhan berikan lewat kepercayaanNya kepada kita.
Sebuah kesempatan diberikan lagi.
Sebuah ujian diadakan lagi.
Sederetan soal disusun lagi.
Supaya kita kembali bangkit.
Supaya kita mencoba lagi.
Supaya kita makin diperkaya lewat pengalaman yang berulang kali.
Supaya kita makin diperlengkapi untuk memberikan kekuatan bagi mereka yang membutuhkan.
Supaya kita makin menjadi seperti Yesus.
Di mata manusia, berapa kali Yesus mengalami kegagalan?
Apakah Yesus seorang tukang kayu yang terkenal, memiliki perusahaan furniture yang memiliki saham terbesar?
Apakah Yesus seorang raja yang memiliki daerah kekuasaan yang luas?
Apakah Yesus seorang hukuman yang menjalani hukuman paling hina pada waktu itu?
Tampaknya banyak kali Yesus gagal.
Namun, apakah Yesus gagal di mata Allah?
Kita sebagai manusia, bisa memandang ‘kegagalan’ yang kita alami sebagai sebuah hal yang buruk. Namun, apakah memang demikian pula ‘kegagalan’ yang kita alami itu dipandang oleh Allah?
Mulai bisa melihat perbedaan ‘kecil’ yang kita alami pada saat kita gagal?
Ujilah kegagalan yang kita alami dengan firman Tuhan.
Marilah makin mendekatkan diri kita kepada Tuhan.
Kenali suaraNya.
Dengarkan bisikanNya.
Rasakan tepukanNya.
Nikmati belaianNya.
Tataplah mataNya.
Kiranya kita semakin sempurna di hadapan Allah, sama seperti Kristus Yesus yang sudah memberikan teladan yang sempurna.
Uncategorized |Leave a Reply