Oleh-oleh dari Malang
Hari Minggu kemaren ikut kebaktian di GKI Bromo. Jam 07.30 WIB bareng temen2 satu tim sie pemuda dewasa (kita di Malang dalam rangka raker).
Waktu itu pelayan firmannya adalah Bpk. Didik Trijadmiko. Dulu pertama kali dengerin Pak Didik kotbah juga di Malang. Waktu itu acara fellowship remaja. Pas itu aku ikut sebagai pendamping. Sekarang dengerin kotbahnya lagi di GKI Bromo. Masih di Malang juga. Hehehe. Lama-lama Malang jadi kota penuh kenangan ^^
Kotbah Pak Didik diawali dengan pertanyaan, "Berapa banyak di antara Bapak/Ibu/Saudara yang membawa sapu tangan?" Terang aja jemaat jadi bengong. Kita yang dari Surabaya pun ikutan bengong. Palagi dua malem sebelumnya pada kurang bobok. Hahaha. Jadi ndak jelas ngga ngejawab pertanyaan itu karena bingung atau ngantuk. Hehehe. Bu Lili yang di sebelahku dengan sigap mengeluarkan sapu tangannya. Wahahaha. Pak Didik kemudian melanjutkan dengan pertanyaan selanjutnya, "Kalau tisu? Ada berapa banyak yang membawanya?" Hehehe. Lantas Pak Didik mengajukan argumen yang ada di dalam benak orang, "Jaman sekarang lebih praktis pakai tisu dong. Kan sekali pakai terus buang."
Itulah makna yang ingin disampaikan lewat ilustrasi tadi.
Sapu tangan adalah lambang kesetiaan. Kelanggengan.
Dipakai sampai rusak. Kalau kotor dicuci. Trus dipakai lagi. Demikian seterusnya, sampai sapu tangan itu rusak.
Sementara tisu adalah lambang ketidaksetiaan. Ketidaklanggengan.
Sekali pakai trus dibuang. Bahkan banyak yang ditinggal di bangku2 gereja. Hahaha. Atau dibuang sembarang di tempat yang tidak terlihat pada awalnya. Namun pada akhirnya tisu itu akan tampak dan bila sudah sekian lama maka tisu itu akan langsung hancur saat tersentuh atau terkena angin. Jadi malah nambah2 kerjaan orang yang ngebersihin tisu itu. Sering kali masih kita lakukan dengan sadar maupun tidak. Kalau tidak ya syukurlah. Kita patut menjadi anggota klub orang-orang langka ^^ hahaha.
Nah, seringkali kita memperlakukan firman Tuhan sama seperti tisu itu tadi. Kita denger firman, baca firman, merenungkan firman, sekali pakai aja. Terus dibuang. Denger cuman di gereja aja. Pas hari Minggu aja. Hari berikutnya ngga. Boro-boro denger firman, baca firman aja engga. Apalagi melakukan. Hehehe. Sekali pakai buang. Ck ck ck…
Teguran yang bener-bener keras. Apalagi setelah malem sebelumnya di rapat menyinggung (salah satunya) mengenai integritas. Hidup kita ini adalah satu kesatuan. Tidak ada pembedaan antara hidup di Hari Minggu dan hidup di Hari Senin-Sabtu. Utuh. Tidak terpisahkan.
Jadi, selamat memiliki hidup yang berintegritas dan membuang tisu pada tempatnya! ^^
Uncategorized |Leave a Reply