Memori tentang Luka

August 20th, 2007

Beberapa hari yang lalu jempol kaki kanan ku terantuk pinggiran kolam yang lancip. Luka nya ngga seberapa dalem, tapi lumayan luas. Hehehe. Dasar ceroboh. Jalan ngga ngeliat2. Dah tau ada pinggiran kolam yang tajem tetep juga itu jempol yang rentan dibenturin di sono. Hahaha. Palagi beberapa hari sebelumnya berada di kota yang berhawa dingin. Jadi ni kulit jadi sensitif banget. Jari-jari di tangan jadi perih semua. Plus ada luka-luka gitu. Hahaha. Ngelupas-ngelupas. Hiiiy.

Luka yang ngga seberapa dalem emang ngga meninggalkan bekas. Tapi sakitnya minta ampun. Senut-senut sampe meringis-meringis. Hahaha. Luka yang dalem ngga seberapa perih tapi juga tetep nyut-nyutan n sembuhnya lamaa. Ditambah lagi kadang meninggalkan bekas.

Di jempol kiriku masih ada luka beberapa tahun lalu. Masih jelas terbayang. Sepanjang 2 cm. Luka kena cutter. Bulan januari tahun 2005. Wah pas itu sampe pusing. Darah yang keluar ngga brenti2. Akhirnya ditidurin. Belum lama tidur genti jari tengah nya monic yang kena cutter. Hahaha. Ndak mau kalah rupanya.

Luka di kaki yang aku dapet pas SMP juga masi ada dikit2. Dah lebih tersamar gara-gara ketutup lemak. Hahaha. Tambah ndut neh. Trus luka yang digigit anjing nya temen pas SMP juga udah hampir ilang. Tapi semuanya masih teringat dengan jelas. Setiap kali aku ngeliat bekasnya teringat pula kejadiannya. Walaupun kesakitannya sudah tidak teringat lagi.

Kadang-kadang luka di hati juga begitu.
Ada luka yang di permukaan saja. Perih dan pedih di awalnya. Setiap kali terkena air akan makin perih. Berulang kali tergesek dengan benda laen akan makin melebar. Tapi kemudian seiring dengan berjalannya waktu dan sembuhnya luka itu, maka hilang pula segala rasa sakit yang ditimbulkannya. Dengan tak ada bekas yang masih tergores, maka kenangan yang menyakitkan itu tidak akan muncul dengan sendirinya. Pasti ada suatu kejadian yang mengingatkan kita kepada rasa sakit yang dulu ada.

Luka yang sebegitu dalam dan meninggalkan bekas akan makin sulit untuk dilupakan. Setiap kali kita dengan tidak sengaja melihatnya maka kenangan menyakitkan itu akan teringat dengan sendirinya. Namun seperti dengan luka di tubuh, biarlah luka yang ada di hati bisa dilupakan seberapa menyakitkannya. Kenangan itu akan tetap ada, namun biarlah itu makin menjadikan kita kuat. Biarlah kita bisa menghibur orang yang juga merasakan sakit yang sama. Biarlah kita tidak melakukan tindakan yang bisa menimbulkan luka di hati orang lain.

Ada kalanya di saat kita terluka, kita membutuhkan waktu untuk menyendiri. Mengambil waktu untuk menghindari gesekan-gesekan yang mungkin terjadi dan bisa memperlebar luka yang sedang kita derita. Namun terlalu lama menyendiri juga bukanlah suatu hal yang menyenangkan. Bisa jadi luka itu malah makin dalam. Dengan makin kita ingat-ingat dan rasakan, makin diapresiasi. Makin pula kita akan menjadi depresi.

Yah, satu-satunya penghiburan yang nyata adalah dari Tuhan Yesus.
Seberapa sakitnya perasaanmu. Seberapa suntuknya pikiranmu.
Seberapa lelahnya tubuhmu. Seberapa capeknya kakimu.
Yesus sudah pernah merasakannya. Baca catatan yang sudah ditulis oleh para penginjil. Cobalah apresiasi apa yang Yesus rasakan.

Selamat merasakan penghiburan yang nyata menghampiri dan memberikan damai sejahtera!




One Response to “Memori tentang Luka”

  1.   Dtqqrjqh on December 21, 2008 2:57 pm

    Hey, i save funny photos
    here

Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind