Memori tentang Luka
Beberapa hari yang lalu jempol kaki kanan ku terantuk pinggiran kolam yang lancip. Luka nya ngga seberapa dalem, tapi lumayan luas. Hehehe. Dasar ceroboh. Jalan ngga ngeliat2. Dah tau ada pinggiran kolam yang tajem tetep juga itu jempol yang rentan dibenturin di sono. Hahaha. Palagi beberapa hari sebelumnya berada di kota yang berhawa dingin. Jadi ni kulit jadi sensitif banget. Jari-jari di tangan jadi perih semua. Plus ada luka-luka gitu. Hahaha. Ngelupas-ngelupas. Hiiiy.
Luka yang ngga seberapa dalem emang ngga meninggalkan bekas. Tapi sakitnya minta ampun. Senut-senut sampe meringis-meringis. Hahaha. Luka yang dalem ngga seberapa perih tapi juga tetep nyut-nyutan n sembuhnya lamaa. Ditambah lagi kadang meninggalkan bekas.
Di jempol kiriku masih ada luka beberapa tahun lalu. Masih jelas terbayang. Sepanjang 2 cm. Luka kena cutter. Bulan januari tahun 2005. Wah pas itu sampe pusing. Darah yang keluar ngga brenti2. Akhirnya ditidurin. Belum lama tidur genti jari tengah nya monic yang kena cutter. Hahaha. Ndak mau kalah rupanya.
Luka di kaki yang aku dapet pas SMP juga masi ada dikit2. Dah lebih tersamar gara-gara ketutup lemak. Hahaha. Tambah ndut neh. Trus luka yang digigit anjing nya temen pas SMP juga udah hampir ilang. Tapi semuanya masih teringat dengan jelas. Setiap kali aku ngeliat bekasnya teringat pula kejadiannya. Walaupun kesakitannya sudah tidak teringat lagi.
Kadang-kadang luka di hati juga begitu.
Ada luka yang di permukaan saja. Perih dan pedih di awalnya. Setiap kali terkena air akan makin perih. Berulang kali tergesek dengan benda laen akan makin melebar. Tapi kemudian seiring dengan berjalannya waktu dan sembuhnya luka itu, maka hilang pula segala rasa sakit yang ditimbulkannya. Dengan tak ada bekas yang masih tergores, maka kenangan yang menyakitkan itu tidak akan muncul dengan sendirinya. Pasti ada suatu kejadian yang mengingatkan kita kepada rasa sakit yang dulu ada.
Luka yang sebegitu dalam dan meninggalkan bekas akan makin sulit untuk dilupakan. Setiap kali kita dengan tidak sengaja melihatnya maka kenangan menyakitkan itu akan teringat dengan sendirinya. Namun seperti dengan luka di tubuh, biarlah luka yang ada di hati bisa dilupakan seberapa menyakitkannya. Kenangan itu akan tetap ada, namun biarlah itu makin menjadikan kita kuat. Biarlah kita bisa menghibur orang yang juga merasakan sakit yang sama. Biarlah kita tidak melakukan tindakan yang bisa menimbulkan luka di hati orang lain.
Ada kalanya di saat kita terluka, kita membutuhkan waktu untuk menyendiri. Mengambil waktu untuk menghindari gesekan-gesekan yang mungkin terjadi dan bisa memperlebar luka yang sedang kita derita. Namun terlalu lama menyendiri juga bukanlah suatu hal yang menyenangkan. Bisa jadi luka itu malah makin dalam. Dengan makin kita ingat-ingat dan rasakan, makin diapresiasi. Makin pula kita akan menjadi depresi.
Yah, satu-satunya penghiburan yang nyata adalah dari Tuhan Yesus.
Seberapa sakitnya perasaanmu. Seberapa suntuknya pikiranmu.
Seberapa lelahnya tubuhmu. Seberapa capeknya kakimu.
Yesus sudah pernah merasakannya. Baca catatan yang sudah ditulis oleh para penginjil. Cobalah apresiasi apa yang Yesus rasakan.
Selamat merasakan penghiburan yang nyata menghampiri dan memberikan damai sejahtera!
Uncategorized | Comment (1)>>ndak tau judule<<
Di kala ku berada dalam kesesakan
Kau mempertahankan hidupku
Bahkan terhadap amarah musuh-musuhku
Engkau mengulurkan tanganMu
Tangan kananMu slamatkanku
Ku tahu Tuhan akan menyelesaikannya bagi diriku
Ya Tuhan kasih setiaMu untuk slama-lamanya
Ku tahu Tuhan akan menyelesaikannya bagi diriku
Janganlah Kau tinggalkan perbuatan tanganMu
"kalo ada yang tau judule plus yang nyanyi pls kasi info hehe thanks b4"
Uncategorized | Comment (0)Oleh-oleh dari Malang
Hari Minggu kemaren ikut kebaktian di GKI Bromo. Jam 07.30 WIB bareng temen2 satu tim sie pemuda dewasa (kita di Malang dalam rangka raker).
Waktu itu pelayan firmannya adalah Bpk. Didik Trijadmiko. Dulu pertama kali dengerin Pak Didik kotbah juga di Malang. Waktu itu acara fellowship remaja. Pas itu aku ikut sebagai pendamping. Sekarang dengerin kotbahnya lagi di GKI Bromo. Masih di Malang juga. Hehehe. Lama-lama Malang jadi kota penuh kenangan ^^
Kotbah Pak Didik diawali dengan pertanyaan, "Berapa banyak di antara Bapak/Ibu/Saudara yang membawa sapu tangan?" Terang aja jemaat jadi bengong. Kita yang dari Surabaya pun ikutan bengong. Palagi dua malem sebelumnya pada kurang bobok. Hahaha. Jadi ndak jelas ngga ngejawab pertanyaan itu karena bingung atau ngantuk. Hehehe. Bu Lili yang di sebelahku dengan sigap mengeluarkan sapu tangannya. Wahahaha. Pak Didik kemudian melanjutkan dengan pertanyaan selanjutnya, "Kalau tisu? Ada berapa banyak yang membawanya?" Hehehe. Lantas Pak Didik mengajukan argumen yang ada di dalam benak orang, "Jaman sekarang lebih praktis pakai tisu dong. Kan sekali pakai terus buang."
Itulah makna yang ingin disampaikan lewat ilustrasi tadi.
Sapu tangan adalah lambang kesetiaan. Kelanggengan.
Dipakai sampai rusak. Kalau kotor dicuci. Trus dipakai lagi. Demikian seterusnya, sampai sapu tangan itu rusak.
Sementara tisu adalah lambang ketidaksetiaan. Ketidaklanggengan.
Sekali pakai trus dibuang. Bahkan banyak yang ditinggal di bangku2 gereja. Hahaha. Atau dibuang sembarang di tempat yang tidak terlihat pada awalnya. Namun pada akhirnya tisu itu akan tampak dan bila sudah sekian lama maka tisu itu akan langsung hancur saat tersentuh atau terkena angin. Jadi malah nambah2 kerjaan orang yang ngebersihin tisu itu. Sering kali masih kita lakukan dengan sadar maupun tidak. Kalau tidak ya syukurlah. Kita patut menjadi anggota klub orang-orang langka ^^ hahaha.
Nah, seringkali kita memperlakukan firman Tuhan sama seperti tisu itu tadi. Kita denger firman, baca firman, merenungkan firman, sekali pakai aja. Terus dibuang. Denger cuman di gereja aja. Pas hari Minggu aja. Hari berikutnya ngga. Boro-boro denger firman, baca firman aja engga. Apalagi melakukan. Hehehe. Sekali pakai buang. Ck ck ck…
Teguran yang bener-bener keras. Apalagi setelah malem sebelumnya di rapat menyinggung (salah satunya) mengenai integritas. Hidup kita ini adalah satu kesatuan. Tidak ada pembedaan antara hidup di Hari Minggu dan hidup di Hari Senin-Sabtu. Utuh. Tidak terpisahkan.
Jadi, selamat memiliki hidup yang berintegritas dan membuang tisu pada tempatnya! ^^
Uncategorized | Comment (0)Pengharapan dalam Kesendirian
Sudah lumayan lama ngga sharing di blog satu ini. Hehehe. Banyakan nulis di blogger. Yah, blame it to friendster. Sering nge hang. Makae jadi males banget update blog ini ^^
Kemaren malem Doa Malam Pemuda Dewasa. Setelah sekian lama menjadi pendengar dan penikmat, kemaren malem aku dikasi kesempatan buat ngebawain renungan singkat. Hehehe. Kayake bener2 singkat deh. Tapi walo singkat sempet grogi pula. Hahaha. Namun lewat renungan singkat itu Puji Tuhan aku kembali dikuatkan lagi. Dimantapkan lagi. Nambah seneng lagi karena salah satu pendengar bilang kalo dia juga ngerasa dipulihkan. Waw! Puji Tuhan
Kemaren jadi hari yang bener2 spesial buat ku.
Sepanjang hari ngga mikir apa2. Dari pagi jam 0700 shooting di gereja bareng Ivana. Trus lanjut breakfast bareng Ivana di depot twenty eight (istilah e Yohanes -hahaha). Trus ngurusi kerjaan sana sini. Siang lunch, eh ketemu Diana. Ditemeni makan siang. Wew! Kita sempet ngobrol2 juga tentang masa depan hihihi… baru beberapa malem yang lalu aku ngimpi ketemu Diana trus dia bilang (di dalam ngimpi nih) pengen ngobrol2 sama aku. Hahaha. Ngga nyangka kalo ternyata ngimpi ku jadi kenyataan -lewat cara yang tak terduga pula!
Jadi dua jam makan selalu ada yang nemeni. Wah wah. Kejadian langka. Makan pagi n makan siang ada temene. Hehehe. Dah lupa aku kapan terakhir kali makan pagi n siang ada yang nemeni. Biasae luntang lantung dewe an. Hohoho. Yang mbuat aku mikir tuh kenapa kok hari kemaren (pas aku malemnya nge bawain renungan) malah banyak temen nya? Banyak juga yang sms, minta didoain (di doa malem nya tentunya). Herannya renungan yang aku bawain malem kemaren tentang Pengharapan dalam kesendirian, bacaannya dari Yohanes 5:1-18 tentang penyembuhan di kolam Betesda.
Yah, mungkin Tuhan mau ingatkan n nyatakan ke aku bahwa sekalipun aku sendirian… bukan berarti ngga ada yang peduli. Selalu ada Tuhan yang peduli. Dan tentunya sangat bisa diharapkan!
Selamat berharap kepada Tuhan!
Uncategorized | Comment (1)