Stay motivated!
Ada tulisan itu di banner kanan page ini deh.
Everydaychoices.org
Yah emang itu pilihan.
Mau stay motivated or ngga itu terserah.
Tapi kalo sendirian gimana caranya stay motivated?
Sendirian dalam artian ngga ada manusia laen di deketmu.
Hmmm… walau ngga ada orang laen tetep aja ‘kehadiran’ mereka nyata di dalam hati. Keberadaan mereka yang berada dekat di hati sudah lebih dari cukup. Yah, kembali ke "cukupkanlah dirimu dengan yang ada"
Kadang-kadang masih ngerasa kesepian juga, tapi akhir2 ini udah lebih baek lagi dari dulu-dulu. Yah, paling ndak harus ada improvement dong. Kadang jadi bertanya-tanya ke diri sendiri. Udah seharian sendirian trus kalo malem jadi ngga pengen sendiri. Buntutnya selalu cari kesibukan yang bisa melibatkan keberadaan manusia yang lain. Hihihihi. Kalau ngga ya brusaha bobok. Walau itu hal yang lumayan susah dilakuin kalo jam masih belum melewati angka 12.
Semoga segala kegiatan yang aku lakuin bukan sekedar buat cari kesibukan, mengisi waktu luang di kesendirian tapi bener2 tulus make others motivated!
Stay motivated and make others motivated!
Uncategorized | Comment (0)Hueeee
Abis njeglek. Baca di koran pasokan listrik uda ngga ada masalah tapi kok hari ini masih njeglek yaaa? Huaaaaa… hueee… untung kerjoan ndak ilang kabeh. Ndak ngulang dari awal. Padahal wes lumayan dibuat bete gara2 ada revisi tambahan. Klien salah kirim file rupanya. Walhasil seperempat e ngulang dari awal dan aku pun lebih diuber2 lagiiiii…. TT
Bersyukurlah hai jiwakuuu!!!!
Uncategorized | Comment (0)Masih Ingat Perkara Charger?
Ternyata kejadian tersebut berulang sampai lebih dari satu kali.
Baru aja semalem kuulangi lagi untuk yang kesekian kalinya!
Hmm… ternyata bener2 susah ya menyadari dengan benar apakah diri kita sudah benar-benar terhubung dengan baik kepada Sang Sumber Tenaga.
Kesalahan yang diulang.
Satu kali berbuat salah maka kita akan mendapat celaan.
Satu kali berbuat benar apakah kita akan mendapatkan pujian?
Seakan-akan pekerjaan yang kita lakukan dengan benar adalah suatu hal yang sudah sewajarnya. Namun satu kali kita berbuat salah atau tidak menyelesaikan pekerjaan dengan baik, maka kembali lagi kita akan dicela. Diingatkan kembali kepada pengalaman-pengalaman masa lalu yang buruk. Seakan-akan tidak ada perubahan yang terjadi dalam diri kita. Seakan-akan tidak ada perbaikan dalam diri kita.
Hmmm…
Ngga enak yah. Tapi itulah dunia.
Coba lihat berapa banyak penerbangan yang berjalan dengan mulus namun tidak pernah menjadi headline di harian pagi yang kita baca.
Namun begitu ada masalah, pesawat jatuh, gagal take off, landing yang tidak mulus maka dengan segera akan memenuhi seluruh headline di seluruh media yang ada.
Masih adakah kesempatan buat kita untuk menunjukkan bahwa kita mengalami perubahan?
Masih adakah kepercayaan yang kita bisa didapatkan?
Sudahkah kita memberikan kepercayaan kepada orang lain?
Sudahkah kesempatan kita berikan untuk mereka membuktikan bahwa mereka sudah berbenah diri?
Seberapa besar hati yang harus dimiliki untuk menerima dan memberikan kesempatan kepada orang-orang yang ada di dekat kita?
Selamat menyempatkan diri untuk memberi dan menerima kesempatan!
Uncategorized | Comment (0)Bintang di Langit Malam
Ndengerin lagu Bintang-bintang dari albumnya Sari Simorangkir yang Forever Grateful sekarang tiap malem mbuat aku kepikiran tentang makna bintang yang ada di langit malem.
Walau kemaren adalah malam ketiga langit Surabaya tak berbintang -mendung- tapi tetep tiap malem sepulang ke rumah selalu nyempetin menolehkan kepala ke atas. Memandang langit sejenak, entah kenapa dengan menengadahkan kepala dan melihat ke langit selalu berhasil menenangkan perasaanku yang letih dan melegakan kesesakan yang menekan.
Bintang di langit malam.
Sendiri di kegelapan.
Memancarkan cahaya.
Cahaya yang bersumber dari dirinya sendiri.
Bintang akan berpijar.
Benda langit yang memantulkan cahaya matahari adalah planet.
Bintang memancarkan cahaya dari dirinya sendiri.
Sumber tenaganya tentulah dari Sang Penggantung Bintang itu sendiri lah.
Entah apa yang dirasakan sebuah bintang (kalau bintang punya perasaan).
Sendirian di langit sana.
Bila dilihat dari bumi emang ada banyak teman-teman yang laen.
Namun benarkah demikian?
Kalau secara ilmu fisika si kayaknya ndak mungkin bintang yang satu berdekatan dengan yang laen yah.
Pasti berjauhan. Apabila berdekatan maka tidak akan bisa dilihat dengan jelas cahaya yang dipancarkannya. Keindahannya tak akan bisa dinikmati dengan jelas dari bumi.
Ternyata jadi bintang itu ngga gampang yah.
Sendirian di sono. Dingin. Gelap.
Tapi bener2 memancarkan cahaya.
Kalau ngga gelap masa bisa bermanfaat?
Kalau berdekatan terus dengan bintang yang laen apakah bisa menerangi seluruh langit yang luas?
Selamat menjadi bintang!
Uncategorized | Comment (0)Tiga Digit!!!
Post #100
Akhirnya blog ini juga nyusul yang di blogspot.
Hahahaha. Iseng. Ndak ada yang pengen ditulis benere. Cuman buat nggenep2i aja. Hahahaha. Wes mau kerjo. Sik pilek2 neh. Wish me luck. Hari ini driving jauh.
Thanks alot buat temen2 yang uda setia doain n kasi support selama aku sakit. Huehehehe. Tiap kali ketemu sampe nanyai terus kabarku gimana. Hohohoho. Segitu memprihatinkan yah? Apparently sakit flu kali ini juga hadiah dari Tuhan supaya aku dapet bonus-bonus yang laen. Ya dapet istirahat extra, dapat teguran, dapet shock, dapet perhatian, dapat macem2 deh. Hehehe. Komplet!
I thank God for this cold. Huehehehe.
Uncategorized | Comment (0)Hadiah
Kalo masi ada beberapa temen yang inget pertanyaan yang aku sms in malem2…
Aku pas itu nanya tentang "Alasan seseorang memberi hadiah…?"
Lumayan beragam jawaban dari temen2.
Sebagian besar bilang karena sayang, perhatian, pengen kasi aja.
Ada juga yang bilang karena balas budi, pengen mbuat seneng orang yang dikasi, kasihan.
Uhmm…
Ternyata ngga cuman karena love and care aja manusia memberi hadiah kepada orang lain.
Ada alasan2 laen nya.
Semuanya sah-sah aja.
Ngga ada yang salah kan?
Yang penting niatnya tulus.
Padahal kalau dipikir2 niat yang tulus di jaman kayak gini apa masih ada?
Saatnya introspeksi diri.
Semoga pada akhirnya kita menemukan diri kita sebagai manusia-manusia berhati tulus.
Kita memberi hadiah kepada orang lain karena kita menunjukkan rasa peduli dan sayang kita kepadanya. Untuk apa kita menunjukkan perasaan kita? Supaya dia mengetahui perasaan kita dong! Untuk apa? Supaya kita tidak dituduh kita tidak peduli? Kita tidak sayang?
Picik banget.
Apakah selalu demikian?
Jadi, kalau kita tidak kasi hadiah kita tidak peduli, gitu?
Kalau tidak memberi sesuatu kita tidak sayang, gitu?
Ndak selalu kan?
Hadiah bisa berupa apa saja.
Tidak harus selalu berujud benda atau barang.
Tidak selamanya berbentuk harta berharga.
Sebuah sapaan dapat memberi semangat baru.
Sebuah senyuman akan mencerahkan hari yang kelabu.
Tepukan pada bahu yang lelah dapat menguatkan.
Pelukan yang hangat akan melegakan kekalutan perasaan.
Teguran, kritikan, saran bahkan kecaman merupakan sebuah hadiah.
Tanda bahwa kita diperhatikan.
Tanda bahwa ada seseorang yang memperhatikan perbuatan kita.
Tidak hanya melihat.
Tidak berhenti pada mengamati dan berbicara di belakang kita.
Namun meluangkan waktu nya untuk menyampaikannya secara langsung kepada kita.
Hadiah.
Bentuknya beragam.
Pada akhirnya diri kita sendiri lah yang menentukan seberapa banyak hadiah yang kita peroleh sepanjang hidup kita.
Seberapa "peka" diri kita dan seberapa "sadar" diri kita terhadap keberadaan hadiah yang sudah kita terima dan yang akan kita terima.
Dan yang lebih penting lagi:
Seberapa banyak hadiah yang sudah kita siapkan buat orang-orang di sekitar kita?
Jangan lupa, saat memberikan hadiah, ada saatnya kita akan merasakan sakit hati pula. Ada kalanya hadiah kita tidak diterima. Ditolak. Dengan berbagai alasan. Buntutnya, perasaan kecewa lah yang muncul di hati kita.
Manusia yang memiliki hati akan mengalami beragam perasaan.
Wajar. Disyukuri saja, artinya kita masih berperasaan.
Jadi, selamat memberikan hadiah kepada orang-orang yang kita kasihi!
Uncategorized | Comments (2)Terima Kasih Tuhanku (Thank You Lord)
Robert & Lea Sutanto
Penasehat ajaib
Allah perkasa
Raja Damai dan Bapa yang kekal
Engkau Yesus Yesus
KasihMu sungguh besar
Terima kasih Tuhanku
Kau jadikan indah hidupku ini
Terima kasih Yesusku
Buat semua yang terjadi di hidupku
Wonderful Counselor mighty God you are
Prince of Peace the everlasting Father
You are Jesus Jesus
Oh your love so great to me
I want to thank you thank you Lord
For you make all things beautiful in your time
I want yo thank you thank you Lord
For all the things that you have done to us
Back to the point of questioning
I’ve been questioned by myself recently
About what I’ve been doing for these recent moments
About what I’ve been through till now
Am I a type of person that can’t keep a relationship well?
I can’t keep my effort to send my news intense.
I can’t do write letters with expecting no responds.
It was too hard to do.
Plus there were no answer about what I am asking.
Is the person I was worrying about didn’t realize what I’m questioning about?
What a pity. Hahaha.
Is it the right thing to say?
What if I were stopping all my effort?
Sometimes I felt so stupid.
Doing lots of things and still no respond that I’ve expected.
Lowering my expectation.
How low it should be?
Is it the best thing I can do?
Is it the only thing I can do?
I am still a human being with a fragile heart, weren’t I?
Yet still I have an uncomfortable feeling
Being afraid to be blamed
Boo-hoo
Praying for having a big-enough heart to accepted all these things.
Is it possible?
The pursuit of happiness keeps me having hope for a miracle.
I’ve just figured out that happiness happen in shape of points in my life,
moments which seems impossible to reach but then it is just happened!
God has made it all possible!
A miracle happiness!
Keep on praying for your mom.
Keep on praying for your dad.
Keep on praying for your grandma.
Keep on praying for your granddad.
Keep on praying for your beloved ones.
Don’t loose hope while pursuing for a miracle happiness!
They all will be provided by the time and way you couldn’t imagine or dream of.
Beyond your imagination!
Aiyaaahh
Pagi tadi dapet sms yang isinya berita baek dari salah seorang temen. Yang ngerasa boleh ge er. Hahaha.
Uhm… cukup membuat seneng, tapi kok masi ada perasan ngga lega ya?
Heran. Pengen isa seneng, tapi tetep ada kegelisahan.
Ada perasan ndak terima, pengen ngeyel.
Wah, gawat!
What should i do?
Gimana dooong? Kudu ngeyel apa diem aja?
Kalo diem aja kok rasae ndak ayem tentrem ya?
Kalo ngeyel kok ntar cari masalah lagi… padahal udah dibilang ada good progress…
Aiyaaahh.
Uncategorized | Comment (0)Quiet Heroes
by Max Lucado
Quiet heroes dot the landscape of our society. They don’t wear
ribbons or kiss trophies; they wear spit-up and kiss boo-boos. They
don’t make the headlines, but they do sew the hemlines and check
the outlines and stand on the sidelines. You won’t find their
names on the Nobel Prize short list, but you will find their names
on the homeroom, carpool, and Bible teacher lists.
They are parents, both by blood and deed, name and calendar. Heroes.
News programs don’t call them. But that’s okay. Because their
kids do … They call them Mom. They call them Dad. And these moms
and dads, more valuable than all the executives and lawmakers west of
the Mississippi, quietly hold the world together.
Be numbered among them. Read books to your kids. Play ball while you
can and they want you to. Make it your aim to watch every game they play,
read every story they write, hear every recital in which they perform.
Children spell love with four letters: T-I-M-E. Not just quality time,
but hang time, downtime, anytime, all the time. Your children are not
your hobby; they are your calling.
Your spouse is not your trophy but your treasure.
Don’t pay the price David paid. Look ahead to his final hours.
To see the ultimate cost of a neglected family, look at the way our hero
dies.
David is hours from the grave. A chill has set in that blankets can’t
remove. Servants decide he needs a person to warm him, someone to hold
him tight as he takes his final breaths.
Do they turn to one of his wives? No. Do they call on one of his children?
No. They seek “for a lovely young woman throughout all the territory
of Israel … and she cared for the king, and served him; but the
king did not know her” (1 Kings 1:3–4).
I suspect that David would have traded all his conquered crowns for
the tender arms of a wife. But it was too late. He died in the care of
a stranger, because he made strangers out of his family.
But it’s not too late for you.
Make your wife the object of your highest devotion. Make your husband
the recipient of your deepest passion. Love the one who wears your ring.
And cherish the children who share your name.
Succeed at home first.
From Facing
Your Giants
Copyright (W Publishing Group, 2006) Max Lucado